Saturday, May 7, 2016

Bhakti Ring Pura Pingit / Pengaturan





Desa Adat Yeh Sanih memiliki warisan budaya yang tidak kalah dengan desa adat yang lainnya di Pulau Dewata, Salah Satu yang unik yaitu persembahyangan hanya dilaksanakan oleh krama desa lanang  Penghulu Desa, Perwakilan Maksan dan anggota desa linggih bertepatan pada Tilem ke dasa tiap dua tahun sekali. 

Di Pagi Hari Krama mempersiapkan sarana yang digunakan seperti kelabang, daun Sente, Porosan, Daun Intaran, dan Bunga Frangipani. serta Banten & Banyuawangan dan juga membuat sarana upacara dari bambu yaitu alat pengusir burung, peniup api, sendok, sepit, alat pembawa makanan, dan persiapan alat memasak lainnya, biasanya yang lebih banyak mengambil pekerjaan di dapur seksi Saye.

Dari jam dua sore ngayah mebat di tempat penyediaan yang bernama Penampahan. Anak sapi disembelih untuk acara tersebut kemudian dibuatkan lawar, rawon, urutan, komoh! 
Setelah masakan selesai maka paruman dimulai dengan  jumlah tempat duduk sesuai jumlah krama yg melaksanakan upacara tersebut dari hulu ke hilir berjumlah 20 tempat duduk. dari hulu ke hilir jumlah ayabannya yaitu 11, 9, 7, 5, 5,5 ....sampai berjumlah 19.

11 untuk Jro Pasek, 9 untuk Jro Ancangan, 7 untuk Jro Bendesa, 5 untuk desa linggih. kemudian akan di bubuhkan sejumlah daun sente, porosan, daun intaran, bunga jepun (Frangipani) sesuai dengan jumlah ayaban tersebut di atas setelah itu di bubuhkan juga hasil masakan tadi berupa nasi putih & lawar mereka akan makan bersama yang sering di sebut NUNAS. Setelah nunas selesai dilakukan maka akan penyediaan makanan sekali lagi dengan jumlah ayaban sama seperti yang pertama dilakukan tapi tempat nunasnya akan dilakukan di pura Pingit .

Upacara dilakukan tengah malam menghadap ke Utara  dan memusatkan pandangan ke area Desa Adat Yeh Sanih,  suasana hening pun berubah ramai seperti suasana di tengah perkebunan karena membunyikan alat pengusir burung dari bambu, suara sedang masak di dapur, dan suara lainnya. Maknanya adalah mengusir roh-roh jahat supaya tidak mengganggu kehidupan di desa adat Yeh Sanih setelah itu acara Nunas pun mulai dilakukan lagi tetapi boleh mengundang orang yang tidak ikut dalam persembahyangan tadi yang disebut MEMEDI.



No comments:

Post a Comment