Friday, April 29, 2016

GOMAS (Goa Maria Air Sanih)







.


http://goamaria.blogspot.co.id/

Sebagai tempat sembahyang bagi umat Nasrani dan Katolik  juga tempat rekreasi yg ingin berkunjung untuk menikmati kebun organik sekitaran GOMAs.
Bertempat di tengah-tengah wilayah desa Air Sanih ini membuktikan hubungan kekerabatan antar Agama bisa terjalin dengan baik.


                   

    








Apakah Saudara/Saudari ingin bergabung GERAKAN KASIH MEMBANGUN SEKRETARIAT GOMAS? Hub: Yayasan Kolese Santo Yusup: 0361 426545, fax 0361 426376, email: kosayucb@yahoo.co.id

DENAH GOA MARIA AIR SANIH

Denah Goa Maria Air Sanih

Alamat Manajemen Goa Maria Bali

Rumah Retret / Khalwat Tegaljaya
No.Telp : (0361) 426545, 081558013443
via e-mail : goamariabali@gmail.com
Bank : BCA Cab Denpasar a.n. Yayasan Kolese Santo Yusup
Rek : 040 30 4969 4

Goa Maria Air Sanih
Terletak di dusun Yeh Sanih, dari Singaraja (di Bali Utara) jaraknya sekitar 12km kearah Amlapura (kearah timur), masuk pintu gerbang dusun Yeh Sanih (sekitar 900m dari lokasi wisata permandian Air Sanih (melewati 2 jembatan), lalu belok kekanan dan masuk ke dalam sekitar 800m.
Koordinat GPS : S8°5'13" E115°13'27.7" Akses jalan : S8°4'49.7" E115°13'28.9"

Tuesday, April 26, 2016

Warung Pesisi

Warung Pesisi


                Sekitar 800 meter ke timur dari obyek wisata Kolam Renang Yeh Sanih
 tersedia warung makan yang menyajikan makanan khas lokal 
seperti ikan bakar, ayam bakar. 
Tempat ini juga menyediakan parkir untuk mobil pengunjung yg nyaman.


https://www.tripadvisor.com/Restaurant_Review-g4006903-d8066509-Reviews-Warung_Pesisi_Air_Sanih-Bukti_Bali.html

https://www.google.co.id/maps/place/Warung+Pesisi+(+Local+Price+)+%26+Tourist+Information/@-8.3803287,114.9113927,10z/data=!4m5!1m2!2m1!1swarung+pesisi!3m1!1s0x2dd1947a025f2341:0x38937582f58ac959?hl=en



Warga Yeh Sanih Tolak Pengambilan Air di Hulu Oleh PDAM


Buleleng, Dewata News. Com - Warga Dusun Yeh Sanih, Desa Bukti, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng menolak dengan tegas pengambilan air di bagian Hulu sumber mata air yang ada di Kolam Renang Yeh Sanih oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Buleleng.

Menurut warga, proyek yang saat ini masih dalam pemasangan pipa serta bak penampungan tersebut akan menganggu wisatawan yang berkunjung ke objek wisata Air Sanih serta ditakutkan akan mengganggu debit air yang keluar.

”Ini sudah harga mati, pengambilan air harus melalui hilir dan tidak melalui hulu,” tegas Widi, salah seorang perwakilan warga yeh Sanih, Selasa (5/1) sore.

Seperti diketahui, proyek tersebut merupakan upaya pemerintah untuk mengantisipasi kekurangan air bersih di wilayah Buleleng Timur dengan memanfaatkan sumber air baku yang ada di Air Sanih. Proyek air minum tersebut digarap oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Balin - Penida, yang rencananya akan memasok air pada 13 Desa di sekitar Desa Bukti yang memang selama ini langganan kekeringan terlebih disaat musim kemarau.


Terkait dengan permintaan warga agar dalam mengambil air melalui hilir, Perwakilan Balai wilayah sungai (BWS) Bali-Penida PPK Pengadaan Air Baku, Made Deni Satya Wijaya mengaku akan mengkonsultasikan permintaan itu bersama pimpinan. 

”Saat ini kami memang belum bisa memberikan keputusan permintaan warga, karena kami harus koordinasikan dulu dengan atasan. Kalau ada kepastian, kami sampaikan,” terangnya.

Sementara Dirut PDAM Buleleng, Made Lestariana mengatakan jika mengacu pada Undang-undang yang ada maka pihak pemerintah berhak mengelola sumber air demi kesejahteraan masyarakat.

"Ini untuk mengantisipasi kekurangan air bersih di Buleleng Timur, maka sumber air Sanih dimanfaatkan. Kalau mengambil air dihulu bisa dimanfaatkan untuk minum tanpa dimasak terlebih dahulu,” ucap Lestariana. (DN - *)

History




Kolam Renang Yeh Sanih  adalah tempat wisata yang terletak sekitar 17 km ke timur dari Singaraja, Bali. Tempat ini merupakan tempat permandian dengan sumber mata air yang kualitasnya bersih dan segar.
Berdasarkan babad "Besi Mejajar" Air Sanih yang disebut Yeh Sanih berasal dari kata "Ersania" yang artinya kelod kangin (timur laut). Dahulu tempat ini Hanya mata air dengan kolam kecil (Empang) digunakan untuk tempat pengambilan air untuk keperluan rumah tangga dan hewan ternak seperti Sapi, Kerbau. Masyarakat meyakini air bersumber dari Danau Batur dengan sungai bawah tanahnya bisa sampai ke hilir, mereka sering menyebutnya SOAN yang artinya muara dari sungai bawah tanah .
Waktu bergulir Aturan dari pemerintah pun berdatangan sehingga terciptalah nama desa yang bernama Desa Adat Yeh Sanih ( sekarang disamakan pemerintah menjadi Desa Pakraman Yeh Sanih) bersamaan dengan itu terbangunlah Tri Kahyangan dan Setra. Masyarakat asli namanya Maksan dan untuk setiap keluarga besar (Dadya) di wakili oleh seorang perwakilan sebagai Penyelenggara Desa Pakraman yeh Sanih yang disebut sebagai "Krama Desa Linggih" atau "Parlement", Mereka duduk di setiap kegiatan Paruman untuk pencapaian mufakat maka hak2 mereka penuh dalam berpendapat untuk kemajuan Desa, Dahulu  mereka mendapat sebidang tanah dari tanah milik desa sebagai konvensasi atau imbalan sebagai penyelenggara Desa Pakraman, hingga sampai sekarang anggota Desa Linggih tersebut melakukan ayahan di desa sesuai Pararem yang berlaku.
Adapun anggota desa linggih Desa Pakraman Yeh Sanih yang berjumlah 16 orang tersebut :
(update 2016)

1. Jro Pasek G.PT. Sudarta P.                                                    9. Gede Sukajiwa
2.  Ketut Sumanasa                                                                  10. Made Bawa
3 . Made Sukresna                                                                   11. Made Sutisna
4 . Gede Lidadomiko                                                               12.Nengah Rubita
5.  Jro Mangku ngh Artama                                                      13. Wayan Reken
6 . Jro Putu Jeneng Kawi                                                          14. Gede Cawiarta
7.  Nyoman Putra                                                                     15. Wayan Sukiarta
8.  Nyoman Sudiasa                                                                  16. Gede Sawitra